JAKARTA – Menurunnys peran Amerika Serikat di dunia internasional akibat keluarnya negara itu dari beberapa organisasi dunia tidak serta merta akan digantikan oleh China. Tapi keputusan AS itu dalam jangka panjang akan menguntungkan posisi China dalam forum-forum multilateral.
Demikian dikatakan Dr. Darmansjah Djumala, Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, ketika diminta pandangannya terkait dengan keputusan politik AS untuk keluar dari 66 organisasi internasional (31 entitas PBB dan 35 non-PBB).
Diungkapkan oleh Djumala, organisasi yang ditinggalkan AS itu antara lain menangani isu iklim, pembangunan berkelanjutan, tenaga kerja dan migrasi. AS beralasan bahwa misi forum-forum internasional itu bertentangan dengan kepentingan AS, telah dikuasai oleh kepentingan negara-negara yang memiliki agenda sendiri yang bertentangan dengan kepentingan nasional AS, sehingga dinilai sebagai ancaman bagi kedaulatan, kebebasan, dan kemakmuran bangsa Amerika.
Dari aspek kelembagaaan, AS menilai organisasi-organisasi yang ditinggalkan itu cakupan isunya terlalu luas, tidak diperlukan lagi untuk kepentingan AS, tata kelola yang salah urus dan boros.
Menurut Dubes Djumala, yang pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB, keputusan AS itu menandai sebuah pergeseran penting dalam kebijakan luar negeri negara adidaya tersebut.
“Keputusan itu merupakan ramifikasi dari perubahan kebijakan luar negeri AS yang kini menunjukkan menguatnya pendekatan unilateralisme dan nasionalisme ekonomi dalam politik domestik AS,” kata Dubes Djumala, Minggu (11/1/2026).
Selain dianggap membebani keuangan negara, AS melihat organisasi internasional tidak sejalan dengan kepentingan langsung AS, terutama forum multilateral yang menangani isu HAM, lingkungan, kesehatan global, dan tata kelola internasional yang dinilai membatasi ruang manuver kebijakan domestik dan bilateral AS.
Dubes Djumala mengkhawatirkan multilateralisme yang selama ini bertumpu pada kepemimpinan negara besar menghadapi krisis kepercayaan. Kekosongan peran AS tidak secara otomatis dapat digantikan oleh negara lain, sehingga banyak lembaga internasional kehilangan daya dorong politik, pendanaan, dan kapasitas implementasi.
Ditegaskan oleh Dubes Djumala, bagi negara berkembang, dampaknya terasa lebih nyata dan langsung. Banyak dari mereka selama ini memanfaatkan organisasi internasional sebagai sumber bantuan teknis, pendanaan pembangunan, transfer pengetahuan, serta perlindungan normatif dalam isu-isu krusial seperti kesehatan, pendidikan, pangan, pengungsi, dan perubahan iklim.
Berkurangnya kontribusi AS dapat berarti menyusutnya program-program di atas. Namun demikian, keluarnya AS dari berbagai organisasi internasional membuka ruang yang dapat dimanfaatkan China untuk memperluas pengaruhnya dalam pengambilan keputusan global.
Bagi negara Global South, absennya AS justru membuat China dinilai sebagai mitra yang diandalkan, terutama dalam pembiayaan pembangunan dan infrastruktur.
”Dalam forum internasional, dukungan China sering dipersepsikan lebih pragmatis dan tidak bersyarat secara politik. Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi China sebagai aktor sentral dalam membangun konsensus dalam isu-isu pembangunan di berbagai organisasi internasional,” ujar Dubes Djumala.











