Ahli BNPT Dr Djumala: Butuh Perhatian Ekstra dan Kontra Narasi Cegah Radikalisasi Remaja dan Anak via Medsos

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan kondisi keamanan saat ini berada pada situasi Waspada Terkendali. Artinya, ada indikasi, pola, dan dinamika yang mengarah pada gangguan keamanan, tapi belum ditemukan target spesifik dalam waktu dekat.

Demikian disampaikan Kepala BNPT Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono pada acara Pernyataan Pers Akhir Tahun 2025, di Pullman Hotel Jakarta, 30 Desember 2025. “Tentunya aparat penegak hukum bersama komunitas intelijen terus melakukan antisipasi dan mitigasi dalam menghadapi gangguan keamanan,” kata Eddy.

Menurut dia, terdapat tren baru dalam proses radikalisasi dan rekrutmen remaja dan anak-anak dengan menggunakan ruang digital. Dalam kurun waktu,2003 hingga September 2025, terdapat 27 perencanaan serangan teror yang berhasil dicegah, 230 orang ditangkap dan 362 orang disidangkan.

“Mereka umumnya berafiliasi ISIS dan diantaranya 11 orang perempuan terlibat dalam aktivitas terorisme di balik layar,  seperti menjadi admin grup media sosial, memproduksi propaganda, menggalang dana, serta mengkoordinasikan komunikasi kelompok teroris,” jelas Eddy.

Saat dihubungi terpisah, Kelompok Ahli BNPT Bidang Kerjasama Internasional, Dr. Darmansjah Djumala, secara khusus merujuk pada munculnya tren baru dalam pola rekrutmen dan targeted group dalam terorisme.ara rekrutmen tidak hanya melalui tatap muka, tapi sudah melalui ruang digital.

Jika dulu hanya laki-laki dan perempuan dewasa yang dijadikan sasaran rekrutmen, sekarang menyasar pada remaja dan anak. “Mereka ini sangat rentan terhadap paparan radikalisme yang menggunakan piranti digital diberbagai platform media sosial,” ujarnya.

Dr Darmansjah Djumala

Menurut Dr. Djumala,  yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB di Wina, hal ini perlu mendapat perhatian ekstra dari pemangku kepentingan agar remaja dan anak tidak mudah terpengaruh oleh penyesatan untuk melakukan tindakan kekerasan yang menjurus ke terorisme.

Terlebih lagi rekrutmen via ruang digital ini sudah menunjukkan dampaknya ketika anak remaja SMA 72 Jakarta Utara melakukan pengeboman di sekolahnya sendiri. “Ini bukti ruang digital sudah tidak ramah lagi bagi anak dan remaja yang sedang mengalami proses pencarian jati diri. Konten kekerasan, bahkan cara-cara membuat peledak pun, dengan mudah dapat diakses oleh remaja dan anak,” kata Dubes Djumala.

Dia mengungkapkan keprihatinannya bahwa selama 2025, Densus 88 telah melakukan pemeriksaan terhadap 112 orang anak terpapar radikalisasi melalui ruang digital (game online dan media sosial) yang tersebar di 26 provinsi.

Dubes Djumala menekankan, perlu perhatian ekstra terhadap fenomena terpaparnya remaja dan anak  kepada radikalisme via digital. Untuk menekan penyebaran propaganda terhadap remaja dan anak di ruang digital, semua stakeholders diharapkan dapat melakukan counter narasi terhadap konten-konten ajakan melakukan kekerasan di media sosial. Sebab, dalam hal perang melawan terorisme dan radikalisme, ruang digital di media sosial saat ini sudah menjadi “the real  battle field”.

“Selain melakukan counter narasi terhadap konten yang memuat paham kekerasan di media sosial, setiap kerjasama di bidang terorisme baik dalam konteks bilateral, regional maupun multilateral, perlu memasukkan isu pencegahan tindakan kekerasan oleh remaja dan anak melalui ruang digital sebagai program prioritas, ” tutup Dubes Djumala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *